Rabu, 10 Juni 2009

Klub Bola Manajemen Publik

Apa sih maksudnya tim Superliga Indonesia manajemen publik?
Manajemen publik dari sudut pandang saya yang tidak pintar dan berpikir sederhana serta seadanya adalah sebuah manajemen yang mengutamakan kepentingan publik tanpa menghiraukan untung atau rugi sebuah perusahaan atau sebuah organisasi. Dalam hubungannya dengan sepak bola, saya dapat menyimpulkan tim sepak bola dijalankan tanpa menghitung untung dan rugi layaknya sebuah tim profesional.

Lalu apa benar tim Superliga Indonesia menganut sistem manajemen publik? saya harus mengamini pendapat ini. Mengapa? Karena sebagian besar tim-tim yang berkompetisi di Superliga yang digembar-gemborkan berlabel profesional di Indonesia ternyata masih bergantung kepada dana pemerintah atau bergantung kepada pemberian APBD daerah setempat yang nilainya hingga puluhan milyar rupiah.

Sebetulnya untuk sekedar berjalannya liga, pemberian APBD ini dirasa cukup walau bagi beberapa tim yang kurang didukung oleh APBD akan kehabasian nafas di pertengahan atau di akhir musim, contoh teranyar adalah bagaimana repotnya PSIS mengarungi liga, bahkan untuk beberapa pertandingan tandang PSIS hanya membawa 11 pemain tanpa cadangan. Sungguh menyedihkan. Hal seperti demikian bisa saja terjadi pada klub yang masih bergantung pada dana APBD.

Belum lagi pencairan dana APBD berlangsug pertahun (meski bisa 'mengemis' saat musim berjalan), sehingga program KLUB yang dibuat pun akan pertahun pula. Hal ini tidak baik. Mau bukti? lihat saja prestasi timnas Indonesia. Bukankah prestasi timnas mencerminkan jalannya kompetisi suatu negara?

Lalu bagaimana idealnya? tentu idealnya tim harus dimiliki oleh perusahaan (individu atau konsorsium atau apalah itu bentuknya). Mengapa idealnya seperti ini? karena mereka akan menghitung habis-habisan berapa modal yang keluar dan berapa pemasukan. Kemudian mereka akan habis2an memajukan tim karena sadar prestasi akan mendatangkan keuntungan finansial.

Mereka akan merubah segalanya, akan menendang orang yang tidak berkompeten dan menggantinya dengan orang tepat sehingga klub akan berjalan baik dan berkelanjutan. Karena tim memiliki program jangka panjang, pemain pun tidak akan di kontrak pertahun seperti yang terjadi seperti sekarang ini.

Karena segala hal (pemain, prestasi, fasilitas dll) saling berkaitan, penonton pun tentu akan dimanjakan oleh suguhan menarik dan berkualitas.

Kapan ya sepak bola Indonesia berjalan layaknya sebuah industri, bukan saja industri bagi pemain, pelatih dan orang yang ada di dalam klub saja yang tentu kebanjiran uang dari dana APBD, tetapi bagi kita semua. Minimal bagi pendukung tim akan memiliki hiburan yang benar-benar indah dipandang mata.

Note:
Karena saya bukan ahli manajemen, koreksi saya jika salah ya...

Rabu, 13 Mei 2009

KORBAN SUPPORTER ATAU SUPPORTER KORBAN?

Apa reaksi Anda saat bersantai menyaksikan berita di televisi lalu sejurus kemudian disuguhi informasi yang menyebutkan kelompok supporter tertentu mengamuk dengan melakukan pelemparan ke tengah lapangan dan melakukan pembakaran di beberapa titik di tribun stadion? Kaget atau malah berkata pada diri sendiri "ah Liga Indonesia, sudah biasa".

Belum selesai disana, esok harinya terbitlah berita di koran yang menyebutkan kelompok supporter tertentu mengamuk karena timnya kalah dan lain sebagainya yang tentu menyudutkan kelompok yang berulah itu. Adilkah? Mungkin ya, mungkin tidak.

Loh kok? sudah jelas mereka yang berbuat karena timnya kalah, supporter di Indonesia mana ada yang dewasa? Mungkin demikian pandangan masyarakat umum dan saya tidak dalam posisi untuk menyangkal hal itu, tetapi boleh kiranya saya mengungkapkan sudut pandang lain yang mungkin bodoh dan sangat sederhana, tetapi bukankah ide yang paling sederhana terkadang jawaban tepat?

Menurut saya sungguh picik jika kita sekadar menonton, mendengar atau membaca berita sebuah kerusuhan di tempat yang damai lalu dengan mudahnya menghakimi "ah payah ah, dasar supporter kampungan" (terlebih Anda adalah penggemar atau penggila sepak bola tetapi tidak pernah datang ke stadion alias terlalu senang dengan sepak bola luar negeri alias tidak suka atau mungkin tidak peduli dengan perkembangan sepak bola domestik).

Suka tidak suka, peristiwa pelemparan atau pembakaran di dalam stadion di Indonesia adalah cerita lama yang terus berulang-ulang bahkan sejak jaman kompetisi perserikatan dan galatama masih berjalan masing-masing. Terkait hal ini, tentu kita semua juga tahu bahwa berbagai usaha berbentuk himbauan kepada supporter agar berlaku tertib mungkin setiap tahun ada spanduk atau flyer yang dibagikan disekitar stadion. Lalu mengapa tidak ada perubahan? pasti ada yang salah disini.

Bukan saya mau bersikap sok tahu, tetapi saya ceritakan sedikit yang terjadi di stadion mungkin hampir di seluruh Indonesia:
1. Tahukah Anda jika banyak petugas keamanan yang datang ke stadion tetapi matanya tertuju kepada lapangan pertandingan dan bukan mengawasi penonton?
Ini sebetulnya kesalahan kecil, tetapi berdampak besar. Kenapa, karena sebetulnya saat petugas keamanan mengawasi supporter sepanjang pertandingan, maka letupan-letupan kecil yang ada bisa langsung terdeteksi.

2. Tahukah Anda ada larangan membawa air dalam kemasan (botol) tetapi banyak sekali pedagang yang berjualan air mineral dalam kemasan (botol) berkeliaran di areal tribun penonton?
Terkesan aneh, botol minuman tidak boleh masuk, tetapi pedagang bebas berkeliaran. Tanya kenapa?

3. Tahukah Anda jika tiket pertandingan biasanya di cetak lebih sedikit dari kapasitas stadion, tetapi banyak penonton tanpa tiket yang bisa masuk ke stadion dengan membayar sejumlah uang kepada oknum petugas yang berakibat sesaknya stadion bahkan bisa meluber ke sisi lapangan.
Ini fakta! silakan Anda bertanya kepada teman yang suka datang ke stadion, jawabnya pasti sama. Bagaimana kenyamanan menonton yang menjadi hak pemilik tiket akan tercipta jika hal seperti ini terus terjadi.

4. Tahukah Anda, ada pagar tinggi yang menjadi pemisah antara petugas keamanan dan penonton di stadion?
Jika terjadi suatu keadaan chaos karena segelintir orang yang terlihat adalah segerombolan kelompok supporter melawan sejumlah petugas keamanan saling serang.

5. Tahukah Anda, saya jarang sekali melihat petugas keamanan yang ditempatkan di areal supporter, jika sekalinya ada, jumlahnya tidak seimbang dengan jumlah supporter.
Percaya atau tidak, supporter memiliki kemampuan untuk menghancurkan tembok lantai stadion dan menjadikannya sebagai alat untuk menyerang. Percaya atau tidak juga, supporter juga sangat mudah untuk mengumpulkan beragam plastik dan kardus bekas yang ditinggalkan pedagang untuk dibakar.

Menilik lima hal yang saya sebutkan di atas sebetulnya peranan panpel dan petugas keamanan untuk menciptakan iklim stadion yang kondusif sebenarnya sangat dominan, JAUH LEBIH DOMINAN DIBANDING SUPPORTER ITU SENDIRI. Kenapa, karena jika di telusuri lebih dalam lagi supporter ternyata hanyalah korban dari sebuah sistem yang tidak dijalankan dengan baik atau jika mau lebih ekstrim kita katakan saja SISTEM YANG SALAH.

Salah bagaimana? Tentu salah..!!! petugas keamanan ada, sistem untuk masuk ke stadion yang memakai tiket sudah diterapkan tetapi, kok bisa ya oknum petugas disogok sehingga penonton tanpa tiket bisa masuk yang berakibat menonton tidak nyaman penuh sesak? kok bisa ya ada pedagang berkeliaran menjual hal-hal yang dilarang di pintu masuk stadion? kok bisa ya petugas keamanan yang ditempatkan di tribun penonton sedikit? padahal letupan kerusuhan itu biasanya berawal dari sana.

Kalau sudah membaca seperti ini, apa masih mau menyebut supporter biang kerok kerusuhan? saya sih lebih melihat supporter adalah korban dari sebuah sistem yang tidak berjalan mulus dan sistem inilah yang harus diperbaiki dan disorot habis-habisan, karena jika menyorot supporter saja, sekali lagi saya menilai supporter adalah korban.

Lalu bagaimana dengan oknum supporter? loh bukankah negara ini negara hukum? TEGAKAN HUKUM, TANGKAP PERUSUH, PROSES SESUAI DENGAN HUKUM YANG BERLAKU.

SEKALI LAGI SAYA TEKANKAN, SUPPORTER ADALAH KORBAN DARI SISTEM YANG TIDAK BERJALAN DENGAN BAIK...!!!

Salam,
Ide Bodoh
http://idebodoh.blogspot.com

ps: simpan dulu komentar semua harus bertanggung jawab (petugas keamanan dan supporter,. karena jika petugas keamanan bekerja dengan baik dan hukum ditegakan supporter pun akan senang dan dengan sendirinya menjadi tertib. :)

Label: , , , , ,

Jumat, 08 Mei 2009

Haruskah Jaya Hartono Di Pertahankan

Persib Bandung pada musim kompetisi Superliga Indonesia 2008/09 dibesut oleh Jaya Hartono seorang pelatih yang sebelumnya sukses menangani Deltra Putra Sidoarjo (Deltras).

Jaya datang ke Bandung tidak sendirian, pelatih berkumis tebal itu membawa serta bintangnya di Deltras seperti Hilton Moreira, Airlangga, dan Hariono untuk digabungkan dengan bintang yang sudah bersinar di Persib Bandung seperti Lorenzo Cabanas, Nova Arianto, Zaenal Arif, dan Eka Ramdhani.

Geliat Persib ternyata tidak berhenti di situ saja, bintang Indonesia lainnya seperti Atep, Maman Abdurrahman, Harry Salisburi, Siswanto dan si anak hilang Nyeck Nyobe di gaet. Persib pun langsung di sebut sebagai salah satu kandidat kuat juara Superliga mengingat tim inti dan tim cadangan memiliki kekuatan yang berimbang.

Persib memulai laga perdana Superliga Indonesia dengan menjamu Persela Lamongan pada tanggal 13 Juli 2008. Sebuah laga yang menegangkan dan mungkin akan selalu diingat oleh bobotoh Persib karena dalam waktu tujuh menit dari sepakan pertama, sudah tercipta empat gol; dua untuk Persib dan dua untuk Persela. Namun skuad kebanggaan Bandung dan Jawa Barat itu akhirnya mampu unggul telak 5-2 di akhir laga.

Di laga kedua Persib Bandung harus langsung berhadapan dengan musuh bebuyutan Persija Jakarta, pertarungan tensi tinggi ini kontan mendapat perhatian dari penikmat sepak bola di penjuru tanah air. Dan kali ini Persib Bandung harus takluk dari Persija dengan skor akhir 3-2. Laga sarat gengsi ini dinodai oleh tindakan kerusuhan yang dilakukan oleh Bobotoh yang tidak mendapat tiket dan menjebol pintu stadion dan membuat pertandingan sempat terhenti selama hampir 30 menit dan berbuntut hukuman denda dan larangan bagi bobotoh untuk menyaksikan Persib langsung di stadion yang kemudian dirubah menjadi hukuman tidak boleh mengenakan atribut ke dalam stadion saat mendukung Persib.

Usai kekalahan menyakitkan dari Persija, Persib Bandung kembali berhadapan dengan tim kuat Indonesia lainnya, Persipura Jayapura dan Persiwa Wamena di Papua. Hasilnya? Persib kembali menelan kekalahan 1-0 dari Persipura dan 3-1 dari Persiwa Wamena.

Tiga kekalahan beruntun tersebut langsung mencuatkan keraguan publik sepak bola Bandung yang terkenal kritis terhadap Jaya Hartono, namun Jaya tidak bergeming dan mampu merebut dua laga "kandang" sebelum akhirnya kembali takluk dari juara bertahan Sriwijaya FC 4-2 di Palembang pada tanggal 09 September 2009 sekaligus membukukan rekor empat kekalahan di tujuh laga awal, sebuah permulaan yang dinilai tidak baik untuk tim sekelas Persib yang bertabur bintang.

Kendati bekerja di bawah tekanan yang hebat, Jaya Hartono membuktikan mental baja (yang dinilai sebagian kalangan "bebal") dan berhasil membawa Maung Bandung mengaum dengan tampil tidak terkalahkan dalam 17 laga Superliga Indonesia sebelum dipatahkan oleh Pelita Jaya Jawa Barat dengan skor 2-1 di Jalak Harupat, Selasa (5/5).

Kekalahan dari Pelita Jaya dan dengan sembilan laga yang masih di kantongi oleh Persib Bandung, secara tidak langsung hampir menutup peluang Persib untuk menjadi kampiun Superliga Indonesia, kendati secara sistematis Persib Masih berpeluang menjadi juara dengan catatan Persipura terkapar sebanyak tiga kali dari lima sisa laga yang dimiliki mereka dan Persib setidaknya mampu memenangkan sembilan laga yang tersisa.

Dengan kondisi seperti ini, apakah layak Jaya Hartono dipertahankan? hm... pertanyaan yang sangat layak untuk dibahas. Satu hal yang pasti, Jaya Hartono memang mampu mengangkat Persib ke papan atas Superliga Indonesia dan peluang untuk mendapat peringkat kedua musim ini sangat terbuka lebar dan bukanlah hal yang memalukan bagi Persib dan bobotoh

Di sisi lain, Jaya Hartono dari putaran pertama liga hingga sekarang (laga ke-25 Persib) belum mampu mengoreksi kelemahan Persib Bandung dalam mengantisipasi umpan silang lawan (ditenggarai sebagai titik paling lemah Persib musim ini).

Bagi saya pribadi, rekor yang telah ditorehkan pelatih yang selalu memakai kaos berwarna kuning di stadion itu membuatnya layak dipertahankan, demi sebuah kontinuitas yang memang harus di terapkan di Persib. Satu musim untuk menilai sukses tidaknya seorang pelatih sungguh tidak fair dan akan menghancurkan program yang sebelumnya sudah disusun oleh tim pelatih dan membuat tim jalan di tempat.

Satu hal lagi saya teringat bahwa prestasi itu tidak bisa dihadirkan hanya dengan membawa pemain bintang saja (baca instan), tetapi prestasi harus dilakukan secara bertahap agar bisa bertahan lama. Sebagai Contoh: tim raksasa Inter Milan sering berganti pelatih, namun Inter di akhir tahun 90an dan di awal 2000 gagal meraih scudetto. Contoh lain: Sir Alex Ferguson membutuhkan waktu lima tahun untuk menciptakan sebuah tim hebat yang mampu menjuarai Liga Premier Inggris, dan kehebatan mereka mampu bertahan hingga kini.

Liga Indonesia? sering berganti pelatih, pemain bagus cabut sana cabut sini, hasilnya? Juara setiap musim pasti selalu berganti. Kenapa? karena hampir semua tim menganut PRESTASI INSTAN, sebuah hal yang harus di tinggalkan oleh Persib.

HIDUP PERSIB...!!!

Gunawan Widyantara untuk Persib Bandung
http://idebodoh.blogspot.com

Label: , , ,

Senin, 04 Mei 2009

Koalisi ? Silakan tanyakan hati

Pada masa kampanye, katakanlah ada partai A yang visi dan misinya tidak sesuai dengan partai B. Mereka melakukan kampanye dengan garis yang mereka yakini, tentu saja keduanya bersebrangan.

Setelah rakyat menyaksikan partai A dan B berkampanye, tentu kemudian rakyat akan memilih pilihannya sesuai visi dan misi yang telah dipromosikan oleh masing-masing partai dengan harapan sang pilihan itu akan melaksanakan misi visi (baca janji) yang telah di jelaskan sebelumnya.

Namun apa lacur, setelah proses pemilihan usai, kini kedua partai yang sebelumnya memiliki visi dan misi yang berbeda (bahkan mungkin saling menggecam) malah merapat demi sebuah posisi atau penggalangan kekuatan yang mungkin tidak dimengerti sama sekali oleh rakyat banyak.

Mengingat latar belakang yang dijelaskan di awal tulisan ini, apakah layak "gerakan" koalisi ini ada?

Label:

Minggu, 26 April 2009

Pelatih, Klub Dan Gelar Juara

Tahukah Anda,
1. Alex Ferguson membutuhkan waktu lebih dari lima tahun, saya perjelas ya... LEBIH DARI LIMA TAHUN untuk membawa Manchester United mengakhiri paceklik gelar di kompetisi Liga Premier Inggris selama 26 tahun, sekali lagi DUA PULUH ENAM TAHUN.

2. Manajer pertama Arsenal yang bukan orang Inggris Raya Arsene Wenger, membawa Arsenal merajai daratan Inggris pada tahun keduanya melatih (1997/98), namun sejak Arsenal menjadi jawara Liga Premier Inggris musim 2003/04, hingga kini (musim kompetisi 2008/09) Arsenal belum pernah juara.

3. Kendati Rafael Benitez pernah memberikan gelar juara Liga Champions bagi Liverpool, tahukan Anda bahwa pelatih asal Spanyol itu belum pernah memberikan gelar Liga Premier Inggris sejak kedatangannya di Anfield pada tahun 2004. Ya, Benitez hingga musim kelima di daratan Inggris, hingga kini belum mampu mengakhiri kering gelar di kompetisi domestik bagi The Reds, kendati demikian, musim sekarang (2008/09) Benitez mendapat kontrak baru dari sang pemilik Liverpool.

Hm... menilik catatan di atas dan melihat kondisi klub sepak bola di Indonesia, rasanya sangat kontras sekali. Pelatih di Indonesia kerap berganti hampir di setiap musim kompetisi, paling banter dua tahun mereka bertahan di satu klub, kendati ada pula pelatih yang mampu bertahan di satu tim hingga tiga sampai lima tahun.

Lalu apa yang salah? Apakah ini kesalahan manajemen atau kesalahan pelatih itu sendiri? Saya tidak tahu pasti, namun boleh kan menduga apa yang terjadi.

1. Klub, Manajemen klub lah pengambil keputusan seorang pelatih harus di putus kontrak atau tidak. Mungkin saja klub berada di bawah tekanan publik, sehingga sering membuat keputusan yang terburu-buru (panic decision). Panic decision terkadang tepat, tetapi tidak jarang pula salah. Kenapa hal ini bisa terjadi bahkan sampai disebut panic decision? hm... mungkin karena banyak orang yang berada di posisi strategis bukanlah orang yang tepat untuk memegang jabatan tersebut.

2. Pelatih. Mungkin terlalu naif jika saya menyebut pelatih di Indonesia terlalu konservatif, kurang memiliki taktik yang variatif, sehingga musim per musim taktik pelatih mudah di baca karena strateginya mononton. Lalu mungkin juga si pelatih tidak memiliki program jangka panjang dalam sebuah tim, sehingga jika pelatih gagal membawa klub juara, maka tidak ada yang bisa dijelaskan lagi atau tidak memiliki rencana lain yang lebih berharga ketimbang hanya juara instan (mungkin ini juga yang mendasari juara Liga Indonesia kerap berganti di setiap musimnya).

Hm... saya sendiri tidak yakin kebenaran analisa mentah tadi, tapi ya boleh dong mengungkapkan apa yang ada di otak walaupun saya hanya bisa mengulasnya dengan cara yang dangkal dan sederhana. Bukankah ada sebutan jika situasi permasalahan begitu kompleks, maka jawaban yang paling sederhana bisa disebut jawaban yang paling tepat. Kata siapa? au ah saya juga asal bikinnya haha.... :)

Oh ya, saya tambahin dikit, saya yakin banyak orang yang sedikitnya paham akan TEORI membangun sebuah tim profesional atau dalam gambaran yang lebih global menciptakan atmosfir industri sepak bola. Saya hanya ingin menyentil sedikit saja, dengan sebuah kalimat dari Albert Eisntein "JIKA FAKTA TIDAK SESUAI DENGAN TEORI, RUBAH SEGERA FAKTANYA".

Salam,
Ide Bodoh... :)

Sabtu, 25 April 2009

Bogor Euy! Pake Cipaganti Travel

Setelah tertunda dua hari, akhirnya hari ini saya "liburan" dahulu di Bogor sekaligus menyusul istri yang sudah berangkat ke Bogor dua hari sebelumnya.

Rencana meninggalkan kota Bandung pada pagi hari terpaksa dibatalkan karena ternyata travel banyak yang penuh, akhirnya saya mengambil jadwal pulang ke Bogor pada siang hari jam satu dengan menggunakan jasa Cipaganti Travel.

Travel datang lebih cepat dari yang dijadwalkan, tetapi mereka melakukan hal ini dengan pemberitahuan sebelumnya, hm... menyenangkan terlebih dua hari sebelumnya saya mengalami pengalaman yang sebaliknya dengan travel yang lain.

Setelah menjemput dua titik lain di seputaran Pasteur, kami akhirnya melanjutkan perjalanan, dan karena ini adalah perjalanan pertama saya dengan Cipaganti, saya sedikit kaget karena mobil ternyata melaju ke arah tol Cipularang woah, mantap...!!!

Sambil menikmati lagu KOrN memang nikmat perjalanan tak terasa saya pun terlelap hingga terbangun dengan penuh keringat dan mobil dalam keadaan akan parkir di sebuah rest area (saya nggak tau ini daerah mana, tapi ini tempat timer Cipaganti) dan saya menemukan hal yang sedikit kurang mengenakkan, ternyata AC MATI! BAH...!!!

Supir menenangkan kami, dan kami pun beristirahat sejenak sambil membeli makanan atau minuman, setelah agak lama, ternyata tali kipas untuk AC putus dan suku cadangnya harus menunggu dari Bandung dan dibutuhkan waktu sekitar satu setengah jam hingga suku cadang itu datang. Wah males banget, musti nunggu, sialan nih. Tapi ternyata Cipaganti menawarkan hal lain, yakni mobil terus maju tanpa AC, tetapi tiket didiskon hingga 25rb. Yang tadinya harus bayar 80rb menjadi 55rb. Ehm... saya langsung bilang sama supir, UDAH BERANGKAT! hahahaha, lumayan 25rb kan buat jajan2 pas nyampe Bogor, HAHA...!!

Setibanya di Bogor, seperti biasa disambut meriah oleh beragam makanan yang sudah disiapkan, dan tentunya saya langsung manggil tukang pijit langganan.
Ini juga nulis baru selesai dipijit.

Hm... nikmatnyaaaaaaa

C.U
haha...!!

Label: ,

Kamis, 23 April 2009

Romeo And Juliet Mengundang Kontroversi

Lumayan menjadi pro dan kontra film Romeo and Juliet.

Sejak saya mendengar rencana akan dibuatnya film jenis ini, reaksi saya biasa saja dan penilaian saya langsung tertuju pada otak pembuat film yang jeli melihat kondisi pertikaian supporter yang lalu dirangkai dalam kisah percintaan yang diambil dari karya terkenal William Shakespeare walau saya tahu ide ini pernah di filmkan di Brasil dengan judul GET MARRIED (2005) yang dilatarbelakangi oleh pertikaian antara supporter Corinthians dan Palmeiras.

Itu di satu sisi, dari sisi lainnya adalah sisi komersil, dengan memanfaatkan nama kelompok supporter yang memiliki jumlah ribuan dan dalam kondisi yang tidak akur, tentu saja akan memudahkan pebisnis dalam melakukan promosi, karena promosi akan bergulir dengan sendirinya.

Lalu bagaimana film tersebut? Wah saya belum melihat film ini dan baru sebatas melihat trailer nya saja dan beberapa tulisan di media online yang ada, salah satunya dari detik yang menulis:

"Film Romeo-Juliet sendiri mengisahkan tentang seorang Jakmania yang bernama Rangga yang diperankan oleh Edo Borne yang jatuh hati pada seorang Lady Vikers yang bernama Desi yang diperankan oleh Sissy Prescilllia. Mereka jatuh cinta pada pandangan pertama saat terjadi bentrokan berdarah antara Jakmania dan Viking.

Kisah pun berlanjut saat Rangga memutuskan untuk pergi ke Bandung guna menemui Desi. Oleh para Jakmania, keinginan Rangga dianggap sebagai usaha mengantarkan nyawa pada Viking. Tak hanya itu, Rangga pun dianggap sebagai penghianat.

Di satu sisi, Desi pun mengalami hal serupa. Penolakan meluncur keras dari keluarganya setelah mereka tahu tentang jalinan cinta kasihnya dengan seorang Jakmania. Terlebih Parman, kakak Desi, yang diperankan oleh Alex Komang adalah pemimpin Viking.

Film ini berhasil memindahkan konflik dalam kisah aslinya antara keluarga Montague dan Capulet dalam perseteruan yang memiliki sejarah panjang antara Jakmania dan Viking. Dari keseluruhan film layak mendapatkan acungan jempol. Sayang dialek Sunda yang ada dalam dialog masih kaku. Detik, Selasa, 21/04/2009 16:44 WIB."


Bagi saya pribadi sendiri, tampaknya saya harus menyaksikan terlebih dahulu film ini, lalu berkomentar apakah film ini layak mendapat reaksi berlebih atau tidak. Ide Bodoh? mungkin, tapi terkadang pemikiran yang paling sederhana adalah jawaban tepat.

Tunggu saja ulasan saya setelah menonton film ini.

Cheers...!!!

Label: , , ,