Haruskah Jaya Hartono Di Pertahankan
Persib Bandung pada musim kompetisi Superliga Indonesia 2008/09 dibesut oleh Jaya Hartono seorang pelatih yang sebelumnya sukses menangani Deltra Putra Sidoarjo (Deltras).
Jaya datang ke Bandung tidak sendirian, pelatih berkumis tebal itu membawa serta bintangnya di Deltras seperti Hilton Moreira, Airlangga, dan Hariono untuk digabungkan dengan bintang yang sudah bersinar di Persib Bandung seperti Lorenzo Cabanas, Nova Arianto, Zaenal Arif, dan Eka Ramdhani.
Geliat Persib ternyata tidak berhenti di situ saja, bintang Indonesia lainnya seperti Atep, Maman Abdurrahman, Harry Salisburi, Siswanto dan si anak hilang Nyeck Nyobe di gaet. Persib pun langsung di sebut sebagai salah satu kandidat kuat juara Superliga mengingat tim inti dan tim cadangan memiliki kekuatan yang berimbang.
Persib memulai laga perdana Superliga Indonesia dengan menjamu Persela Lamongan pada tanggal 13 Juli 2008. Sebuah laga yang menegangkan dan mungkin akan selalu diingat oleh bobotoh Persib karena dalam waktu tujuh menit dari sepakan pertama, sudah tercipta empat gol; dua untuk Persib dan dua untuk Persela. Namun skuad kebanggaan Bandung dan Jawa Barat itu akhirnya mampu unggul telak 5-2 di akhir laga.
Di laga kedua Persib Bandung harus langsung berhadapan dengan musuh bebuyutan Persija Jakarta, pertarungan tensi tinggi ini kontan mendapat perhatian dari penikmat sepak bola di penjuru tanah air. Dan kali ini Persib Bandung harus takluk dari Persija dengan skor akhir 3-2. Laga sarat gengsi ini dinodai oleh tindakan kerusuhan yang dilakukan oleh Bobotoh yang tidak mendapat tiket dan menjebol pintu stadion dan membuat pertandingan sempat terhenti selama hampir 30 menit dan berbuntut hukuman denda dan larangan bagi bobotoh untuk menyaksikan Persib langsung di stadion yang kemudian dirubah menjadi hukuman tidak boleh mengenakan atribut ke dalam stadion saat mendukung Persib.
Usai kekalahan menyakitkan dari Persija, Persib Bandung kembali berhadapan dengan tim kuat Indonesia lainnya, Persipura Jayapura dan Persiwa Wamena di Papua. Hasilnya? Persib kembali menelan kekalahan 1-0 dari Persipura dan 3-1 dari Persiwa Wamena.
Tiga kekalahan beruntun tersebut langsung mencuatkan keraguan publik sepak bola Bandung yang terkenal kritis terhadap Jaya Hartono, namun Jaya tidak bergeming dan mampu merebut dua laga "kandang" sebelum akhirnya kembali takluk dari juara bertahan Sriwijaya FC 4-2 di Palembang pada tanggal 09 September 2009 sekaligus membukukan rekor empat kekalahan di tujuh laga awal, sebuah permulaan yang dinilai tidak baik untuk tim sekelas Persib yang bertabur bintang.
Kendati bekerja di bawah tekanan yang hebat, Jaya Hartono membuktikan mental baja (yang dinilai sebagian kalangan "bebal") dan berhasil membawa Maung Bandung mengaum dengan tampil tidak terkalahkan dalam 17 laga Superliga Indonesia sebelum dipatahkan oleh Pelita Jaya Jawa Barat dengan skor 2-1 di Jalak Harupat, Selasa (5/5).
Kekalahan dari Pelita Jaya dan dengan sembilan laga yang masih di kantongi oleh Persib Bandung, secara tidak langsung hampir menutup peluang Persib untuk menjadi kampiun Superliga Indonesia, kendati secara sistematis Persib Masih berpeluang menjadi juara dengan catatan Persipura terkapar sebanyak tiga kali dari lima sisa laga yang dimiliki mereka dan Persib setidaknya mampu memenangkan sembilan laga yang tersisa.
Dengan kondisi seperti ini, apakah layak Jaya Hartono dipertahankan? hm... pertanyaan yang sangat layak untuk dibahas. Satu hal yang pasti, Jaya Hartono memang mampu mengangkat Persib ke papan atas Superliga Indonesia dan peluang untuk mendapat peringkat kedua musim ini sangat terbuka lebar dan bukanlah hal yang memalukan bagi Persib dan bobotoh
Di sisi lain, Jaya Hartono dari putaran pertama liga hingga sekarang (laga ke-25 Persib) belum mampu mengoreksi kelemahan Persib Bandung dalam mengantisipasi umpan silang lawan (ditenggarai sebagai titik paling lemah Persib musim ini).
Bagi saya pribadi, rekor yang telah ditorehkan pelatih yang selalu memakai kaos berwarna kuning di stadion itu membuatnya layak dipertahankan, demi sebuah kontinuitas yang memang harus di terapkan di Persib. Satu musim untuk menilai sukses tidaknya seorang pelatih sungguh tidak fair dan akan menghancurkan program yang sebelumnya sudah disusun oleh tim pelatih dan membuat tim jalan di tempat.
Satu hal lagi saya teringat bahwa prestasi itu tidak bisa dihadirkan hanya dengan membawa pemain bintang saja (baca instan), tetapi prestasi harus dilakukan secara bertahap agar bisa bertahan lama. Sebagai Contoh: tim raksasa Inter Milan sering berganti pelatih, namun Inter di akhir tahun 90an dan di awal 2000 gagal meraih scudetto. Contoh lain: Sir Alex Ferguson membutuhkan waktu lima tahun untuk menciptakan sebuah tim hebat yang mampu menjuarai Liga Premier Inggris, dan kehebatan mereka mampu bertahan hingga kini.
Liga Indonesia? sering berganti pelatih, pemain bagus cabut sana cabut sini, hasilnya? Juara setiap musim pasti selalu berganti. Kenapa? karena hampir semua tim menganut PRESTASI INSTAN, sebuah hal yang harus di tinggalkan oleh Persib.
HIDUP PERSIB...!!!
Gunawan Widyantara untuk Persib Bandung
http://idebodoh.blogspot.com
Jaya datang ke Bandung tidak sendirian, pelatih berkumis tebal itu membawa serta bintangnya di Deltras seperti Hilton Moreira, Airlangga, dan Hariono untuk digabungkan dengan bintang yang sudah bersinar di Persib Bandung seperti Lorenzo Cabanas, Nova Arianto, Zaenal Arif, dan Eka Ramdhani.
Geliat Persib ternyata tidak berhenti di situ saja, bintang Indonesia lainnya seperti Atep, Maman Abdurrahman, Harry Salisburi, Siswanto dan si anak hilang Nyeck Nyobe di gaet. Persib pun langsung di sebut sebagai salah satu kandidat kuat juara Superliga mengingat tim inti dan tim cadangan memiliki kekuatan yang berimbang.
Persib memulai laga perdana Superliga Indonesia dengan menjamu Persela Lamongan pada tanggal 13 Juli 2008. Sebuah laga yang menegangkan dan mungkin akan selalu diingat oleh bobotoh Persib karena dalam waktu tujuh menit dari sepakan pertama, sudah tercipta empat gol; dua untuk Persib dan dua untuk Persela. Namun skuad kebanggaan Bandung dan Jawa Barat itu akhirnya mampu unggul telak 5-2 di akhir laga.
Di laga kedua Persib Bandung harus langsung berhadapan dengan musuh bebuyutan Persija Jakarta, pertarungan tensi tinggi ini kontan mendapat perhatian dari penikmat sepak bola di penjuru tanah air. Dan kali ini Persib Bandung harus takluk dari Persija dengan skor akhir 3-2. Laga sarat gengsi ini dinodai oleh tindakan kerusuhan yang dilakukan oleh Bobotoh yang tidak mendapat tiket dan menjebol pintu stadion dan membuat pertandingan sempat terhenti selama hampir 30 menit dan berbuntut hukuman denda dan larangan bagi bobotoh untuk menyaksikan Persib langsung di stadion yang kemudian dirubah menjadi hukuman tidak boleh mengenakan atribut ke dalam stadion saat mendukung Persib.
Usai kekalahan menyakitkan dari Persija, Persib Bandung kembali berhadapan dengan tim kuat Indonesia lainnya, Persipura Jayapura dan Persiwa Wamena di Papua. Hasilnya? Persib kembali menelan kekalahan 1-0 dari Persipura dan 3-1 dari Persiwa Wamena.
Tiga kekalahan beruntun tersebut langsung mencuatkan keraguan publik sepak bola Bandung yang terkenal kritis terhadap Jaya Hartono, namun Jaya tidak bergeming dan mampu merebut dua laga "kandang" sebelum akhirnya kembali takluk dari juara bertahan Sriwijaya FC 4-2 di Palembang pada tanggal 09 September 2009 sekaligus membukukan rekor empat kekalahan di tujuh laga awal, sebuah permulaan yang dinilai tidak baik untuk tim sekelas Persib yang bertabur bintang.
Kendati bekerja di bawah tekanan yang hebat, Jaya Hartono membuktikan mental baja (yang dinilai sebagian kalangan "bebal") dan berhasil membawa Maung Bandung mengaum dengan tampil tidak terkalahkan dalam 17 laga Superliga Indonesia sebelum dipatahkan oleh Pelita Jaya Jawa Barat dengan skor 2-1 di Jalak Harupat, Selasa (5/5).
Kekalahan dari Pelita Jaya dan dengan sembilan laga yang masih di kantongi oleh Persib Bandung, secara tidak langsung hampir menutup peluang Persib untuk menjadi kampiun Superliga Indonesia, kendati secara sistematis Persib Masih berpeluang menjadi juara dengan catatan Persipura terkapar sebanyak tiga kali dari lima sisa laga yang dimiliki mereka dan Persib setidaknya mampu memenangkan sembilan laga yang tersisa.
Dengan kondisi seperti ini, apakah layak Jaya Hartono dipertahankan? hm... pertanyaan yang sangat layak untuk dibahas. Satu hal yang pasti, Jaya Hartono memang mampu mengangkat Persib ke papan atas Superliga Indonesia dan peluang untuk mendapat peringkat kedua musim ini sangat terbuka lebar dan bukanlah hal yang memalukan bagi Persib dan bobotoh
Di sisi lain, Jaya Hartono dari putaran pertama liga hingga sekarang (laga ke-25 Persib) belum mampu mengoreksi kelemahan Persib Bandung dalam mengantisipasi umpan silang lawan (ditenggarai sebagai titik paling lemah Persib musim ini).
Bagi saya pribadi, rekor yang telah ditorehkan pelatih yang selalu memakai kaos berwarna kuning di stadion itu membuatnya layak dipertahankan, demi sebuah kontinuitas yang memang harus di terapkan di Persib. Satu musim untuk menilai sukses tidaknya seorang pelatih sungguh tidak fair dan akan menghancurkan program yang sebelumnya sudah disusun oleh tim pelatih dan membuat tim jalan di tempat.
Satu hal lagi saya teringat bahwa prestasi itu tidak bisa dihadirkan hanya dengan membawa pemain bintang saja (baca instan), tetapi prestasi harus dilakukan secara bertahap agar bisa bertahan lama. Sebagai Contoh: tim raksasa Inter Milan sering berganti pelatih, namun Inter di akhir tahun 90an dan di awal 2000 gagal meraih scudetto. Contoh lain: Sir Alex Ferguson membutuhkan waktu lima tahun untuk menciptakan sebuah tim hebat yang mampu menjuarai Liga Premier Inggris, dan kehebatan mereka mampu bertahan hingga kini.
Liga Indonesia? sering berganti pelatih, pemain bagus cabut sana cabut sini, hasilnya? Juara setiap musim pasti selalu berganti. Kenapa? karena hampir semua tim menganut PRESTASI INSTAN, sebuah hal yang harus di tinggalkan oleh Persib.
HIDUP PERSIB...!!!
Gunawan Widyantara untuk Persib Bandung
http://idebodoh.blogspot.com
Dari sisi Pencapaian jaya hartono bisa dikatakan lumayan bagus, tetapi dari sisi permainan boleh dikatakan jaya gagal total. persib miskin kreasi, rapuh dibelakang. pola permainan monoton dan tidak menunjukan bahwa persib ada lah tim besar yg bertabur bintang dan selalu punya pakem permainan 1-2 sentuhan umpan-umpan pendeka, juga menjankan pendek merapat. itu yg saya nilai sebagai kelemahan tim persib besutan jaya hartono. 1 nilai minus lg adalah jaya kurang mampu membuat strategi jitu apabila persib macet mencetak gol, jaya terkesan mandeg dan kurang mampu merubah arah permainan. persib apabila tertinggal lebih dahulu dan tidak mampu mencetak gol sampe menit 40 hasil yg didapat selalu kalah atau seri.
BalasHapus~kaisar viking~